Hari Boleh Bertanya Apa Saja

gambar ilustrasi

gambar ilustrasi

Meskipun saya punya urat percaya diri yang tebal, bukan berarti saya tidak grogi atau bingung ketika baru  mulai mengajar. Untungnya jabatan saya guru asisten, jadi saya  bisa leluasa mengamati guru kelas mengajar. Dan untungnya lagi, guru kelas saya waktu itu gosipnya guru terbaik. Tapi tetap, grogi juga karena yang akan saya ajar adalah anak-anak kelas satu SD yang jumlahnya lebih dari 20  orang.

Untungnya lagi, saya tahu kekuatan saya yang lain. Selain PD, saya juga hobi ngomong.  Saya senang bicara, apalagi kalau jadi pusat perhatian…narsis!  Maka tersalurkanlah hobi saya itu.

 

Setiap pagi sebelum belajar , rutinitas kami adalah membaca ikrar dan berdo’a. Setelah itu, kami tidak langsung mengajar tapi melakukan pengkondisian suasana kelas untuk mulai belajar kami menyebutnya Morning Talk, tidak lama hanya lima  sampai sepuluh menit. Karena kami mengajar kelas satu SD, biasanya guru akan bermain tepuk tangan atau bernyanyi untuk mengkodisikan anak-anak.

Morning Talk adalah chit chat atau ngobrol sedikit tentang apa saja, bisa tentang liburan Sabtu- Minggu mereka, kebiasaan di rumah, binatang kesukaan atau tentang teman yang sakit. Justru acara inilah yang paling seru, anak-anak pasti berebut untuk bercerita atau menjawab.

Sering juga acara morning talk saya isi dengan bercerita, cerita tentang masa kecil saya atau cerita-cerita bagus yang pernah saya baca.

Saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika melihat mimik serius campur lucu mereka saat mendengarkan gurunya yang hobi ngomong ini bercerita.  Saya bercerita tidak lama, karena namanya morning talk, paling lama 10 menit. Perusahaan-perusahaan Jepang ternyata juga mempunyai tradisi morning talk, sebelum mereka mulai bekerja mereka berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil.  Dalam kelompok kecil itulah mereka saling menyapa, bertanya tentang kesehatan, kabar keluarga atau mendiskripsikan perasaan mereka hari itu. Tradisi ini ternyata sudah berlangsung lama di perusahaan-perusahaan Jepang. Tujuannya tidak lain selain mengkondisikan pegawai untuk memulai kerja dan memenuhi kebutuhan sebagai manusia yang ingin didengar atau disapa.

Kebiasaan bercerita sebelum mengajar terus berlanjut sampai saya mengajar di kelas-kelas tinggi, kelas enam maksud saya. Bercerita di hadapan anak-anak kelas satu, berbeda sensasi dan tantangannya dengan bercerita di depan  murid-murid kelas enam. Di kelas enam harus bisa menyelami dunia  murid-murid saya yang sedang masuk masa pubertas.

Apa kegemaran mereka, lagu atau band apa yang sedang mereka gandrungi, atau games apa yang sedang digilai anak-anak laki? Sekarang ini murid-murid saya sedang gandrung facebook (FB).  Maka jadilah saya buat FB juga, paling tidak saya jadi tidak asing dengan istilah-istilah yang mereka gunakan.  Menjadi bagian dari mereka sangat penting saat ini, mengingat revolusi dunia maya begitu cepat tanpa rem dan kontrol. Kita juga punya tugas untuk menjadi kontrol atau remnya. Biasanya di acara morning talk kami gunakan untuk diskusi tentang masalah-masalah aktual yang dekat dengan mereka. Misalnya, apa kelebihan dan kekurangan FB, apa yang bisa kita ambil sebagai manfaat pada FB dan apa yang mesti ditinggalkan . Dan kesimpulan diskusi-diskusi yang seru itu mereka pula yang membuat.

Tapi tetap lho,  tema yang paling mereka sukai adalah: reproduksi & pubertas! Kalau masalah satu ini waah, pertanyaan-pertanyaanya bisa sangat ajaib dan tak terduga. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ajaib dan tak terduga modalnya harus  tetap cool , pura-pura tidak kaget walaupun ini kepala terus berputar-putar cari jawaban paling tepat, aman dan tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih ajaib lagi.

Acara morning talk, selain kami isi dengan cerita, main tebak-tebakan, ada juga hari ”Boleh Tanya Apa Aja.” Sesuai temanya mereka boleh bertanya tentang apa saja. Soal pelajaran yang belum mereka mengerti, sains, sosial, politik, agama, keuangan, rumah tangga, jodoh, asmara, karir. Apa aja…..

Acara ini bukan bermaksud menunjukan bahwa guru mereka hebat, karena bisa menjawab segala macam pertanyaan. Bukan itu tujuannya. Kadang-kadang saya juga tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, kalau tidak bisa menjawab saya terus terang  bilang tidak tahu, sambil berjanji  akan mencari jawabannya. Dan anehnya, pada acara ini tidak ada yang bertanya tentang pelajaran.

Kadang kami juga membahas tentang film-film bagus. Tentu saja film-film anak-anak. Kemudian kita membahas apa pesan dari cerita film tersebut. Film terakhir yang kami bahas adalah Slumdog Millioner. Film tentang kehidupan anak-anak terlantar di India. Selain pesan dalam film, kami juga membahas tentang setting, alur cerita, ending dan penokohan. Saya hanya ingin mereka menonton film bukan cuma sekadar mencari hiburan, tapi juga memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain dalam sebuah film.

Selain film kami juga membahas tentang buku-buku bagus. Apa buku favorit mereka atau buku favorit saya. Tapi saya perhatikan animo anak-anak pada buku bacaan semakin tahun semakin menurun. Sebagian murid-murid perempuan menyukai novel-novel fiksi, tapi pada murid laki-laki yang suka membaca hanya beberapa gelintir  saja.

Ternyata kebiasaan cerita membuat murid-murid saya ketagihan, mereka protes kalau saya langsung mengajar. Mereka bilang,  ”Cerita dulu Bu, baru belajar.”

Ada juga yang bertanya, dari mana saya tahu banyak tentang banyak hal. Wah saya jadi tersanjung dibuatnya. Dan efek yang tidak pernah saya kira adalah saya jadi dikenal orangtua murid, sebab anak-anak sering bercerita lagi ke orangtua mereka.Ibuu guru cerita begini, ibu guru cerita begitu.

Dengan bercerita saya berbagi sebagian hidup saya dengan murid-murid, berbagai masa kecil saya yang beda zaman dengan mereka. Cerita keluarga saya sehingga mereka merasa kenal dan dekat dengan saya.  Kami juga suka berbagi tebak-tebakan baik yang serius berlogika sampai yang jayus tidak jelas. Kami suka tertawa bersama setelah itu. Itulah saat-saat yang membahagiakan saya sebagai guru.

Rasullullah sendiri tidak melarang kita untuk bercanda dan tertawa bersama, asal dilakukan tidak berlebihan dan dilakukan sesekali. Dan yang dilakukan untuk menghibur atau menarik perhatian pendengar. Sebab menurut Imam Nawawi, sendau gurau atau bercanda yang berlebihan dan dilakukan terus menerus akan dapat menjatuhkan wibawa seseorang. Jadi tertawalah bersama murid-murid tapi tidak berlebihan, sebab akan menghilangkan wibawa kita sebagai guru,  akibatnya mereka akan memperlakukan guru seperti teman yang bisa dibecandai, diusili atau diolok-olok  dan diledek seenaknya.

Bagaimana dengan Anda, sahabat guru semua? Apa pengalaman dengan hari boleh bertanya apa saja? Mari sharing bersama kami.

Share

3 Responses to Hari Boleh Bertanya Apa Saja

  1. mimi says:

    Bahagia rasanya bila kelak saya mempunyai anak dan ia dapat memiliki guru spt bu shanty. Menurut saya, cara yang diterapkan ibu amatlah bermanfaat dan melatih anak dgn beberapa keterampilan. Sebut saja, melatih anak untuk menjadi pendengar yang baik, untuk dapat menghargai lawan/orang lain yg berbicara, etika bicara dalam forum, bahkan menstimulus anak untuk dapat merumuskan pertanyaan yg ada dalam benak mereka dalam kata”. Untuk yg terakhir itu, Subhanallah… Jelas bukan suatu hal yg sepele. Kebanyakan kita terlatih menjawab, tapi sangat tidak terampil dalam merumuskan pertanyaan untuk mendapat jawaban yang diperlukan. Belum lagi jika kita harus menggunakan bahasa kebanggaan kita Bahasa Indonesia. Sungguh saya berharap banyak guru yg terinspirasi dengan kisah ibu dan menerapkannya di sekolah hingga makin banyak anak yg bisa percaya diri, dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.

  2. Arifin says:

    Bagus sekali…saya suka sekali dgn cerita bu guru ini. Saya jadi ingin ngajar anak-anak sd kelas satu nich.

  3. rosi says:

    inspiring! izin nge-link tulisannya ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>